Bab 1
Kompleks asrama itu sangat luas, terdiri atas lebih dari tiga puluh blok.
Masing-masing blok bertingkat lima dan setiap tingkat memiliki tiga puluh
delapan kamar. Tidak mengherankan banyak yang saling tidak mengenal, apalagi
kegiatan mahasiswa korea yang sangat padat dan karateristik orang korea yang
tidak terlalu usil dengan urusan orang lain.
Sudah hampir setahun Soojung berada di Seoul, namun boleh dibilang
kenalannya hanya sebatas kawan-kawan setingkat yang kerap di jumpai di dapur.
Amber dan Victoria adalah kawan eratnya, sama-sama berasal dari Los Angles.
Juhyun, kawan Amber tinggal di tingkat yang sama, tapi sudah hampir tiga tahun
disitu, jadi ia sudah terbiasa dengan kehidupan asingnya.
Soojung kerap kali merasa rindu dengan rumah, apalagi ketika mengingat apa
yang membuatnya merantau sejauh itu. memang, terhadap orangtuanya dia berdalih
tidak lulus di New York University, lebih baik belajar saja ke luar negeri, toh
biayanya tidak beda jauh dengan perguruan tinggi swasta.
Namun, kini ia merasa sedikit menyesal dan kerepotan sendiri memikirkan
biaya. Kiriman dari rumah terlalu pas-pasan, kalau tidak mau dibilang kurang.
Dia tidak berani menuntut lebih banyak, sebab ia tahu keadaan keluarganya yang
merosot setelah ayahnya di tipu ratusan USD. Sebelum ia pergi, ibunya sudah
bertanya ratusan kali dapat pergi dengan ongkos sebegitu, dan ia sudah
menyanggupi. Pokoknya saat itu, ia sudah bertekad : lebih baik hidup kelaparan
di negeri orang, daripada hidup kenyang di depan hidung seorang penghianat. Dan
nama yang punya hidung itu adalah Jongin ! Hidungnya mancung, wajahnya tampan,
namun hatinya culas.
Pada sebuah pesta, Soojung memperkenalkan Jongin pada temannya, Seulgi. Tak
dinyana, tak disangka, Jongin sampai hati mengecohnya dan Seulgi terpaksa
dinikahinya. Yah ! belum jodoh, bisik hatinya saat itu. namun, kalau sedang badmood
ingin sekali Soojung mencekik pemilik hati yang culas itu. namun ia selalu
merasa ngeri dengan kehidupan di balik sel pejara dan segala momok yang
berkeliaran di dalam sana. Akhirnya seperti biasa, hanya air mata yang meleleh
turun.
Setelah berpikir ribuan kali, ia nekat mau pergi meninggalkan semua kenahan
pahit di belakang. Dia bertekad mau melembari sejarah hidupnya dari mula lagi.
Namun kini ... ?
Kalau dia tidak segera mendapat tambahan uang, ia harus angkat kaki dari
sini, berhenti kuliah, balik ke rumah Mom, nangis tiap hari memikirkan nasib.
Soojung menghela napasnya sambil mengaduk sup bening, makan siangnya hari
itu. Dia terlalu asyik melamun sehingga kedatangan Juhyun mengejutkannya.
"hei, aku mendengar seseorang menghela napas. Sepertinya kau. Wajahmu
keruh sekali, ada apa ? urusan si dia ?"
"heh, memikirkan orang lain ? memikirkan hidup sendiri saja aku hampir
gila. Aku tidak mau pacaran sebelum sekolah selesai. Tidak ada uang, Hyun ! apa
kata orangtuaku nanti jika aku sampai gagal, padahal mereka sudah mengeluarkan
biaya begitu banyak ?! pacaran ? Huh !" sekejap pikirannya yang sedang
pusing teringat pada Jongin, dan jengkelnya meletup.
"heh, kau ini seperti gadis yang pernah patah hati saja ! sepertinya
kau anti lelaki. Kan tidak semuanya jelek, Jung. Misalnya kekasihku..."
Soojung menghela napas. Sungguh Juhyun tidak pernah peduli dengan perasaan
orang lain. Kalau sudah menduga orang pernah patah hati, ia seharusnya tidak usah
pamer pacarnya yang nomor satu itu ! hanya akan membuat hati yang patah ini
makin merana, bukan ?! tapi Soojung sudah tahu sifat Juhyun. Dimana saja, pada
siapa saja, Juhyun akan selalu memamerkan kekasihnya yang tidak pernah di
perkenalkannya pada siapapun. Alasannya klasik, takut di rampok!
'kalau soal itu, kau tidak usah takut padaku' pikir Soojung sinis 'aku
paling pantang merampok pacar orang, sebab aku sudah rasakan sendiri betapa
pahitnya jika pacar di rampas teman!' Dan, yah! Sebenarnya itulah alasan utama
yang membuatnya pergi sejauh ini. sebab Jongin telah dirampas oleh Seulgi,
teman karibnya di SMA yang kini berubah menjadi musuhnya.
Tapi, sekarang bukan itu yang memberatkan pikiran Soojung melainkan ia sudah
hampir kehabisan uang! Dan dia tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Tentu
saja bukan pada Juhyun, pikirnya kembali dengan sinis, ketika gadis berambut
cokelat lembut itu berkicau menyebutkan semua hal yang merupakan kebolehan
kekasihnya.
Sekadar basa-basi, Soojung menanggapinya setengah hati. Pikirannya seperti
pusaran air yang hanya berputar-putar pada masalah yang sama. Dia kehabisan
uang. Kalau tidak bisa mendapatkan pekerjaan –apa saja- di terpaksa bilang
annyeong dan kembali ke LA.
"...dan hari Minggu nanti dia akan menerima piala juara dance di
kampus! Setelah itu makan siang dengan teman-temannya dan kau tahu, aku sudah
pasti di undang. Ah! Dan dia dipuji setinggi langit oleh profesornya. Liburan
musim panas nanti dia diajak tim dancenya ke Busan untuk pertandingan. Eh! By
the way, masa kau hanya makan sup air ? apa kau yakin akan kenyang? Ayo kita
makan daging dan chips yang baru aku beli"
"aniya, gomawo. Aku masih punya omlete di kamar, sisa semalam",
sahut Soojung yang enggan menerima budi, lalu cepat-cepat berlalu ke kamarnya,
sehingga membuat Juhyun melongo karena biasanya mereka selalu makan di dapur
sambil berbincang. Tapi Soojung tidak mau dikasihani orang lain kalau ketahuan
jika telurnya sebenarnya sudah habis tiga hari yang lalu.
***
Dua minggu kemudian sisa uangnya tinggal dua puluh ribu won. Kalau dia hemat
minggu ini, uang itu bisa di pakainya seminggu itu. tapi dia terpaksa jalan
kaki ke kampus. Apa boleh buat? Mungkin sekali-sekali bisa pergi bersama
teman-temannya yang punya mobil dan tentunya tidak setiap hari.
Suara ketukan di pintu kamarnya membuatnya gugup. Dengan cepat di simpan
dompetnya yang lusuh dan kempes itu, lalu membuka pintu.
"Annyeong, boleh aku masuk?" seru Juhyun seraya menerobos
masuk sebelum diberi izin. Soojung menutup pintu lalu menemani Juhyun yang
duduk di karpet. Sebelum ia sempat bertanya apa keperluannya, Juhyun sudah
kembali berkicau seperti petasan di taman.
"kalau tidak salah, kau bilang tempo hari ingin mencari pekerjaan,
Jung? Apa kau mau merawat orang sakit?"
Tentu saja dia mau. Tapi sakit apa? kalau perawatannya sulit, pasti dia
tidak becus.
"hm.., sakit apa, Hyun ? kalau tidak terlalu sulit, it's okay. But,
kalau perlu perawatan khusus, mungkin aku tidak baik"
"oh, soal itu tidak usah khawatir. Orangnya sebenarnya tidak sakit
dalam artian tidak terus diam di ranjang. Tapi dia butuh pertolongan, sebab...
matanya buta. Karena kecelakaan dua minggu yang lalu. Dokter bilang, ada
harapan dengan operasi dia bisa di sembuhkan. Tapi harus menunggu enam bulan
lagi. Itupun cuman sebelah. Yang lain, beberapa bulan kemudian. Jadi, kira-kira
nanti sekitar delapan sampai Sembilan bulan dia bisa melihat lagi. Dan selama
itu, dia membutuhkan pertolongan"
"pasiennya laki-laki?"
"ya"
Soojung menjadi ragu. Bisakah dia ? menolong orang itu ke kamar mandi, ke
tempat tidur...
"orangnya masih muda?"
"tiga tahun lebih muda dariku" berarti seumuran dengannya. Semuda
itu?! ah, dia tidak bisa! Dia bukan perawat, dia tidak biasa melayani kebutuhan
pribadi orang lain, apalagi lelaki yang bukan lagi hampir sebaya, namun sebaya
dengannya.
"aku tidak bisa. Mian"
Juhyun menyebutkan jumlah honor yang lebih dari lumayan untuknya. Soojung
berpikir lagi. Perasaannya enggan sebab dia pasti akan kikuk dan malu
menghadapi pasien seperti itu. belum lagi kalau orangnya kuat! Bukankah
sebenarnya dia tidak sakit?! Berarti jasmaninya sehat! Berarti...!
'Ah, kau sombong' tuduh pikirannya yang Cuma memikirkan soal uang 'kau lebih
suka mati kelaparan daripada sedikit merendahkan diri untuk menjadi pelayan
orang lain
"aku sungguh tak mampu, Hyun"
"memangnya kenapa?"
"ya, kau pikir saja. Kalau dia mau ke kamar mandi atau ke WC! Bagaimana
aku harus menolongnya? Apakah aku harus memandikannya juga? Bagaimana kalau dia
mencoba memperkosaku?"
Tawa Juhyun meledak. "mengenai itu semua kau tidak perlu khawatir,
Jung. Waktu di rumah sakit dia sudah melatih dirinya untuk ke kamar mandi dan
WC sendiri. Dia juga punya kursi roda yang bisa dia jalankan sendiri dengan
mudah. Tapi, dia perlu bantuan kalau mau pergi keluar, misalnya ke kuliah.
Harus ada yang memperingatkannya jika ada bahaya di jalan. dia juga perlu
bantuan di dapur atau dalam mencari bab-bab di textbook. Tugas-tugas seperti
itu. tak susah kan? Tapi ada syaratnya"
"apa?"
"pertama, kau tidak boleh memakai namamu kalau bekerja di sana. Kau
harus mengaku bernama... Krisy misalnya, atau Krystal. Kedua, kau tidak boleh
mengatakan perihal dirimu pada pasien itu, seperti alamatmu disini ataupun di
LA, apa kuliahmu, dan lain-lain. Pendeknya, kau tidak boleh menjadi intim
dengannya. Dan begitu dia berhasil dengan operasinya , kau harus berhenti, tak
boleh sekali-sekali memperkenalkan diri padanya! Setuju?"
Sooujung bukannya menjawab, tapi malahan bertanya lagi, "sebenarnya
siapa pasien itu?"dia sedikit dongkol karena diberi syarat-syarat serumit itu.
aneh sekali, pikirnya.
"namanya Sehun. Calon tunanganku"
Hm. Kini Soojung mengerti dan malah merasa simpati pada kecemasan dan
kekhawatiran temannya itu. dia juga tidak mau calon tunangannya direbut
orang... seandainya dia punya calon!
"tapi, kalau kau begitu cemas kalau aku nanti akan merebutnya, kenapa
kau tidak merawatnya sendiri? Dengan begitu, kau juga bisa menghemat
bukan?"
Juhyun menghela napas. "seharusnya memang begitu. Tapi masalahnya, aku
orang yang tidak sabaran. Dalam seminggu saja, entah sudah berapa kali aku
emosi karena melihat dia membuat kesalahan atau karena kehilangan semangat dan
tidak mau mencoba. Dia sangat tertekan karena kejadian itu dan mudah marah
karena kesalahan sekecil apapun"
"selain itu aku tidak punya waktu. Aku harus mengikuti kuliah fulltime.
Aku juga harus pergi berenang, latihan menyanyi, dan lain-lain. Pendeknya, aku
tidak punya waktu untuk menemaninya terus-menerus. Geurae, aku beri kau waktu
sampai besok untuk memikirkannya. Aku jamin, dia tidak akan memperkosamu!"

Ada lanjutan ngga ya??
BalasHapus